DPR, TINJAUAN ILMU STATISTIK

DPR, Dewan Perwakilan Rakyat. Bung google menerjemahkannya jadi House of Representatives. Menarik, bukan? Yang menarik bukan gaji atau tunjangannya, tapi istilah yang digunakan. Kata pertama: House, jadi jangan heran kalau eksistensi DPR memang dilihat dari ‘rumah’ yang mereka tempati. Mewah dikit gak apa kali, tapi pantes gak kalau mueewah? Nah, untuk meninjau pantes gaknya house itu dibikin, mari kita bicara dengan kepala dingin. Ilmiah dikitlah. Mari loncat ke kata kedua, “perwakilan”.

Pertama, mari terjemahkan “perwakilan” menurut kaidah statistik warung kopi. Dalam statistik, proses pengambilan data kadang berasumsi bahwa untuk tahu semua, kita tidak perlu tanya semua. Artinya, kalau gak mungkin tanya seluruh populasi (sensus kan mahal), mari kita survei ke beberapa “sample” saja. Hebatnya, sample itu bisa dihitung sedemikian hingga bisa menjadi “representasi” dari seluruh populasi. Daripada pusing, singkatnya gini deh: statistik mengisyaratkan kalau anggota DPR itu adalah wakil rakyat, harusnya mereka juga bisa menjadi “sample” dari kondisi rakyat Indonesia. Jadi, kalau kata BPS ada 13 persen penduduk yang miskin, berarti persentasenya segitu juga yang miskin di DPR. Kalo penduduk yang punya HP cuma 20 persen, berarti 80 persen wakilnya di DPR juga gak bisa bbm-an. Kalo rata2 gaji pekerja di Indonesia 1 jutaan, berarti rata2 gaji DPR juga segitu. Hehehe, ternyata kenyataan di DPR jauh dari itu. Ini membuktikan kalo ilmu statistik itu gak bener. Artinya, istilah statistik gak cocok untuk gambarkan siapa DPR yang harusnya menjadi representasi kondisi rakyat.

Kedua, karena gak tau arti persisnya, tebakan saya adalah perwakilan = mewakili kemauan. Rakyat maunya itu, anggota DPR maunya itu. Nah, semakin menarik bukan? Siapa yang mau gaji 50 juta plus-plus? Siapa yang suka renang atau spa? Semuanya mau toh? Tapi, harap maklum. Berhubung negara kita masih miskin, gak mungkin semuanya kebagian, dong. Artinya, mari kita tentukan wakil kita yang bisa “mewakili” kita menikmati hidup yang indah ini. Hehehe, ironis bukan?

Kalau dua di atas gak bener, so istilah perwakilan artinya apa ya? Kata perwakilan atau “representatives” katanya memiliki makna khusus klo orang belajar politik. Kalo mau tahu maknanya, tanyakeun ka pengamat, biar serius.

Sebagai penutup, balik lagi ke statistik, yuk. Ada satu istilah yang cukup populer dalam statistik, outlier. Kata om Wiki, outlier is an observation that is numerically distant from the rest of the data(data yang tidak sesuai dengan perilaku umum dari data lainnya). Tau gak bahasa Indonesia-nya? Konon, terjemahan outliers adalah “Pencilan”. Sesuai dengan definisinya, Pencilan adalah segerombolan orang yang perilakunya tidak biasa, tidak umum. Kalau umumnya orang harus berzakat kepada fakir miskin, dia malah tidur kenyang pake duit rakyat. Kalau orang lain tambah ngantuk habis spa, mereka tambah seger. Dan seterusnya. So, kalau huruf P di DPR artinya pencilan, bener gak ya? Ah, ilmu statistik memang ngaco………

NB: Katanya desain gedung DPR mirip sama Gedung Telecom Center di Odaiba Tokyo ya? Trus, spa nya ntar seperti onzen di Jepang dong ?

Sumber

Kirimkan komentar Anda

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s